Webmasters, Klik di sini dan dapatkan buku tamu gratis!

Ciri-Ciri Manusia Indonesia

By Dafa | Rabu, Oktober 22, 2008 | 1 Komentar Kawan2

Mochtar Lubis dalam bukunya “Manusia Indonesia Sebuah
Pertanggung
Jawaban” mennyebutkan beberapa ciri manusia Indonesia
antara lain:

Hipokritis alias munafik.(hal 23)
Berpura-pura, lain di muka - lain di belakang,
merupakan sebuah ciri
utama manusia Indonesia sudah sejak lama, sejak
meraka dipaksa oleh
kekuatan-kekuatan dari luar untuk menyembunyikan apa
yang sebenarnya
dirasakannya atau dipikirkannya ataupun yang
sebenarnya dikehendakinya, karena
takut akan mendapat ganjaran yang membawa bencana
bagi dirinya.

Segan dan enggan bertanggung jawab atas perbuatannya,
putusannya,
kelakuannya, pikirannya, dan sebagainya.( hal 26)
“Bukan saya’, adalah kalimat yang cukup populer di
mulut manusia
Indonesia. Atasan menggeser tanggung jawab tentang
suatu kegagalan pada
bawahannya, dan bawahannya menggesernya ke yang lebih
bawah lagi, dan
demikian seterusnya.

Berjiwa feodal. (hal 28)
Meskipun salah satu tujuan revolusi kemerdekaan
Indonesiaialah untuk
juga membebaskan manusia Indonesiadari feodalisme,
tetapi feodalisme
dalam bentuk-bentuk baru makin berkembang dalam diri
dan masyarakat manusia
Indonesia.

Sikap-sikap feodalisme ini dapat kita lihat dalam
tatacara upacara
resmi kenegaraan, dalam hubungan-hubungan organisasi
kepegawaian (umpamanya
jelas dicerminkan dalam susunan kepemimpinan
organisasi-organisa si
isteri pegawai-pegawai negeri dan angkatan
bersenjata), dalam pencalonan
isteri pembesar negeri dalam daftar pemilihan umum.
Isteri Komandan,
isteri menteri otomatis jadi ketua, bukan berdasar
kecakapan dan bakat
leadershipnya, atau pengetahuan dan pengalamannya
atau perhatian dan
pengabdiannya.

Masih percaya takhyul. (hal 32)
Dulu, dan sekarang juga, masih ada yang demikian,
manusia Indonesia
percaya bahwa batu, gunung, pantai, sungai, danau,
karang, pohon, patung,
bangunan, keris, pisau, pedang, itu punya kekuataan
gaib, keramat, dan
manusia harus mengatur hubungan khusus dengan ini
semua.

Kepercayaan serupa ini membawa manusia Indonesiajadi
tukang bikin
lambang. Kita percaya pada jimat dan jampe. Untuk
mengusir hantu kita
memasang sajen dan bunga di empat sudut halaman, dan
untuk menghindarkan naas
atau mengelakkan bala, kita membuat tujuh macam
kembang di tengah
simpang empat. Kita mengarang mantera. Dengan jimat
dan mantera kita merasa
yakin telah berbuat yang tegas untuk menjamin
keselamatan dan
kebahagiaan atau kesehatan kita.

Artistik. (hal 38)
Karena sifatnya yang memasang roh, sukma, jiwa, tuah
dan kekuasaan pada
segala benda alam di sekelilingnya, maka manusia
Indonesiadekat pada
alam. Dia hidup lebih banyak dengan naluri, dengan
perasaannya, dengan
perasan-perasaan sensuilnya, dan semua ini
mengembangkan daya artistik
yang besar dalam dirinya yang dituangkan dalam segala
rupa ciptaan
artistik dan kerajinan yang sangat indah-indah, dan
serbaneka macamnya,
variasinyam warna-warninya.

Watak yang lemah. (hal 39)
Karakter kurang kuat. Manusia Indonesia kurang dapat
mempertahankan atau
memperjuangkan keyakinannya. Dia mudah, apalagi jika
dipaksa, dan demi
untuk ’survive’ bersedia mengubah keyakinannya.
Makanya kita dapat
melihat gejala pelacuran intelektuil amat mudah
terjadi dengan manusia
Indonesia.

Tidak hemat, dia bukan “economic animal”(hal 41)
Malahan manusia Indonesiapandai mengeluarkan terlebih
dahulu
penghasilan yang belum diterimanya, atau yang akan
diterimanya, atau yang tidak
akan pernah diterimanya.. Dia cenderung boros. Dia
senang berpakaian
bagus, memakai perhiasan, berpesta-pesta. Hari ini
ciri manusia
Indonesiamenjelma dalam membangun rumah mewah, mobil
mewah, pesta besar, hanya
memakai barang buatan luar negeri, main golf,
singkatnya segala apa yang
serba mahal.

Lebih suka tidak bekerja keras (hal 42), kecuali kalau
terpaksa
Gejalanya hari ini adalah cara-cara banyak orang ingin
segera menjadi
“miliuner seketika”, seperti orang Amerika membuat
instant tea, atau
dengan mudah mendapat gelar sarjana sampai memalsukan
atau membeli
gelar sarjana, supaya segera dapat pangkat, dan dari
kedudukan berpangkat
cepat bisa menjadi kaya.

Manusia Indonesiakini tukang menggerutu (hal 43)
tetapi menggerutunya tidak berani secara terbuka,
hanya jika dia dalam
rumahnya, atau antara kawan-kawannya yang sepaham
atau sama perasaan
dengan dia.
Cepat cemburu dan dengki terhadap orang lain yang
dilihatnya lebih dari
dia.

Manusia Indonesia juga dapat dikatakan manusia sok (hal
43)
Kalau sudah berkuasa mudah mabuk berkuasa. Kalau kaya
lalu mabuk harta,
jadi rakus.

Manusia Indonesiajuga manusia tukang tiru
Kepribadian kita sudah terlalu lemah. Kita tiru
kulit-kulit luar yang
memesonakan kita. Banyak nyang jadi koboi cengeng
jika koboi-koboian
lagi mode, jadi hipi cengeng jika sedang musim hipi.

Masih ada lebih banyak lagi ciri-ciri manusia
Indonesiayang dipaparkan
oleh Muchtar Lubis, namun saya pikir lebih baik jika
Anda membaca
sendiri bukunya, agar bisa mendapatkan pemahaman yang
lebih utuh.
Hingga saat ini pun kalo boleh dibilang manusia
Indonesia itu unik.


Luv

zee




Jokes

| 0 Komentar Kawan2




-

PENCAK SILAT

>>
>>Satu ketika teman saya pulang kerja, tapi ia salah
>>memasukkan nomor alarm karena lupa. Tiba-tiba polisi
>>datang, karena nomor yang dimasukkan salah maka alarm
>>secara otomatis langsung terhubung ke 911.
>>
>>Polisi bertanya dari mobilnya sambil senapan diarahkan
>>kepada teman saya, katanya, "Where do you come from,
>>Sir?"
>>
>>Teman saya menjawab, "Indonesia Sir!"
>>
>>Kebetulan si polisi ini waktu ia dinas di California
>>sempat belajar pencak silat sama orang indonesia.
>>Kemudian polisi ini bertanya, "Do you know pencak
>>silat?"
>>
>>"Yes, Sir!" teman saya menjawab sambil ketakutan,
>>"PANCASILA: Satu, Ketuhanan Yang Mahaesa, Dua ....
>>(dst.)"
>>
>>
>>
>>BEDA
>>
>>Tiga cowok temen kuliah ketemu di sebuah cafe.
>>
>>Bejo : Eh, Blo, kalo gak salah dulu kamu pacaran sama
>>Dewi. Kenapa gak jadi menikah?
>>
>>Tablo : Ortuku nggak setuju. Beda agama. Eh, kamu sama
>>Cintya, gimana?
>>
>>Bejo : Ortuku gak setuju. Beda etnik.
>>
>>Temen ketiga, Jeko diam. Tablo dan Bejo menatapnya.
>>Berdua tanya, "Eh, Ko, gimana hubunganmu sama Karen
>>Katanya bubar juga, kenapa?
>>
>>Jeko menarik napas : beda kelamin...!
>>
>>
>>
>>LOGIKA
>>
>>Di sebuah sekolah dasar, suatu saat seorang guru
>>bertanya pada salah satu muridnya:
>>
>>Bu Guru : "Hei Udin tolong jawab pertanyaan ibu
>>yaach..., Kalo ada 5 ekor burung di jendela, kemudian
>>ditembak satu, berapa yang masih tertinggal??????"
>>
>>Udin : "Habis dong Bu, kan lainnya pada terbang"
>>
>>Bu Guru : "Salah, harusnya dijawab masih tinggal 4
>>ekor, tapi saya seneng kok cara kamu berpikir....."
>>
>>Di saat yang lain Udin balik bertanya pada Bu Guru.
>>
>>Udin : "Bu Guru tolong jawab pertanyaan saya...Kalo
>>ada tiga orang cewek, masing-masing membawa es krim,
>>cewek pertama makan es krim dengan menggenggam
>>contongnya, yang kedua dengan menjilati es krim
>>tersebut, yang ketiga langsung mengulumnya, Manakah
>>diantara cewek itu yang sudah menikah?"
>>
>>Bu Guru : "Haaahhhh ..... pasti yang makannya dengan
>>mengulum langsung yaaaa"
>>
>>Udin : "Salah..... harusnya dijawab yang sudah pake
>>cincin kawin, tapi saya senang lihat cara berpikir Bu
>>Guru"
>>
>>Bu Guru : ??!!!#@$%^
>>
>>
>>
>>DUNGU
>>
>>Diruang kuliah, seorang dosen senior sedang memarahi
>>mahasiswanya:
>>
>>"menjawab saja tidak becus, eh malah bercanda dan
>>ngobrol seenaknnya. Skarang sia-sia disini, yang
>>merasa dungu BERDIRI !!!! " sang dosen membentak.
>>
>>Beberapa menit suasana hening. TIba-tiba dari bangku
>>belakang seorang mahasiswa berdiri.
>>
>>" Jadi kamu yakin betul, kamulah si dungu itu ??? "
>>
>>" Bukan begitu pak, saya cuma tidak tega melihat Bapak
>>berdiri sendiri."
>>
>>
>>
>>ISTRI LEGISLATIF YANG SETIA
>>
>>Ada seorang anggota legislatif yg sangat makmur sedang
>>santai menikmati sore di rumah mewah mereka yang baru.
>>Kemudian terjadilah percakapan yang mengerikan ini.
>>
>>Istri (I): Pa, apa benar kamu nggak pernah selingkuh
>>atau tidur dengan wanita lain? ceritakan saja, aku
>>nggak marah kok. Kan bagaimanapun semua itu telah
>>berlalu.
>>
>>Suami (S) : sumpah, nggak pernah ma, lalu kalo kamu
>>apa pernah, ma?
>>
>>I : sebenarnya pernah sih, tapi kamu jangan marah ya.
>>Inget nggak waktu kamu dulu pulang dengan loyo karena
>>lamaran kerjamu ke perusahaan itu ditolak dan besoknya
>>tiba tiba kamu dipanggil masuk kerja? Saya datangi
>>bossmu di kantor dan saya memuaskan dia.
>>
>>S : (sambil menelan liur) eh.. masa cuma itu, ada
>>nggak yang lain?
>>
>>I : masih ada juga sih, waktu dulu kamu mengajukan
>>kenaikan gaji dan ditolak namun kemudian dinaikkan dua
>>kali lipat, malam itu saya datangi rumah bossmu dan
>>saya kenyangkan dia semalam suntuk.
>>
>>S : (gluk..) trus cuma itu?
>>
>>I : sebenarnya sih ada lagi, tapi terpaksa, habis
>>gimana lagi. Masih ingat nggak waktu itu kamu
>>mengikuti pemungutan suara untuk calon legislatif dan
>>masih kurang 150 suara lagi untuk menang?
>>
>>S : (braaaak .....) pingsan.
>>
>>
>>
>>KISAH BOS DAN PIZZA BOY
>>
>>Seorang bos di sebuah perusahaan besar tiba-tiba
>>melakukan inspeksi mendadak ke pabriknya untuk melihat
>>kinerja para karyawannya. Di pabrik keempat, ia
>>menemukan seorang pria muda yang tengah bersandar di
>>dekat pintu, nampaknya ia tengah bersantai. Semua
>>pekerja yang ada diruangan itu tengah sibuk bekerja,
>>kecuali dirinya.
>>
>>Si bos segera menghampir pemuda tersebut dan bertanya,
>>"Berapa gajimu seminggu?"
>>
>>Dengan sedikir terkejut, pemuda itu melihat ke arah si
>>bos dan berkata, "Hmmmm sekitar 100.000 per minggu,
>>kenapa memangnya?"
>>
>>Si bos mengeluarkan dompetnya dan mengambil dua lembar
>>uang 100 ribu-an. Ia mengulurkannya pada si pemuda,
>>"Ini gajimu untuk dua minggu dan cepat pergi dari
>>sana. Aku tak mau melihatmu lagi."
>>
>>Dengan keterkejutan luarbiasa dan juga takut, si
>>pemuda segera meninggalkan tempat tersebut tanpa
>>banyak bicara.
>>
>>Lalu dengan muka berwibawa si bos melihat para stafnya
>>yang sedari tadi memperhatikan adegan itu.
>>
>>"Adakah yang tahu, dari divisi manakah pemuda pemalas
>>tersebut," tanyanya. Suana menjadi hening sampai
>>akhirnya seorang staf menjawab dengan sedikit
>>ketakutan, "Ia tak bekerja disini. Ia adalah pengantar
>>pizza dari yang mengatar pesanan personalia."
>>
>>
>>
>>SEPULUHAN
>>
>>Seorang pria merasa tidak enak badan. Ia mengunjungi
>>seorang dokter untuk pemeriksaan menyeluruh.
>>
>>Setelah pria tersebut menunggu agak lama, dokter itu
>>keluar sambil membawa hasil pemeriksaan.
>>
>>Dokter : "Maaf saya harus mengatakan hal yang sangat
>>buruk kepada Bapak"
>>
>>Pria : "Kenapa Dok ?"
>>
>>Dokter : "Keadaan anda sedang sekarat. Hidup anda
>>tinggal sebentar lagi..."
>>
>>Pria : "Masih berapa lama lagi Dok ?"
>>
>>Dokter : "Sepuluh."
>>
>>Pria : "Sepuluh apa Dok ? Sepuluh tahun, sepuluh bulan
>>atau sepuluh minggu?"
>>
>>Dokter : "Sembilan...."
>>
>>Pria : "Haaaaaaaaaaaa......."
>>
>>Dokter : "Delapan.... Tujuh .. Enam .."
>>
>>
>>
>>TENGGELAM
>>
>>Suatu hari seorang penyelam sedang melihat-lihat
>>terumbu karang pada kedalaman 8 meter. Tiba-tiba ia
>>melihat seseorang berada disampingnya. Ia terkejut
>>karena orang tersebut nggak memakai peralatan selam.
>>
>>Penyelam lalu turun lagi sampai ke kedalaman 15 meter.
>>Ia terkejut melihat orang yang tadi disebelahnya
>>menyusulnya. Penyelam turun lagi, sampe 25
>>meter...cing eh..orang yang tadi turut ngikutin sampe
>>di 25 meter.
>>
>>Penyelam makin heran, dan ia mendekati orang tersebut
>>sambil memberikan white board dengan pensil 2 B -nya
>>dengan tulisan: " Hebat bener kamu...gimana caranya
>>sampe ke kedalaman begini tanpa memakai alat selam?"
>>
>>Orang itu mengambil white boardnya dan menulis: " Gua
>>tenggelam, Goblok!"

ole0.bmp






Delapan Kebohongan Seorang Ibu Dalam Hidupnya

By Dafa | Minggu, Oktober 19, 2008 | 1 Komentar Kawan2


Story From Friend
Dalam kehidupan kita sehari-hari, kita percaya bahwa kebohongan akan membuat manusia terpuruk dalam penderitaan yang mendalam, tetapi kisah ini justru sebaliknya... Dengan adanya kebohongan ini, makna sesungguhnya dari kebohongan ini justru dapat membuka mata kita dan terbebas dari penderitaan, ibarat sebuah energi yang mampu mendorong mekarnya sekuntum bunga yang paling indah di dunia...


Cerita bermula ketika aku masih kecil, aku terlahir sebagai seorang anak di sebuah keluarga yang miskin. Bahkan untuk makan saja, seringkali kekurangan. Ketika makan, ibu sering memberikan porsi nasinya untukku. Sambil memindahkan nasi ke mangkukku, ibu berkata :
"Makanlah nak, aku tidak lapar" ———- KEBOHONGAN IBU YANG PERTAMA
Ketika saya mulai tumbuh dewasa, ibu yang gigih sering meluangkan waktu senggangnya untuk pergi memancing di kolam dekiat rumah, ibu berharap dari ikan hasil pancingan, ia bisa memberikan sedikit makanan bergizi untuk petumbuhan. Sepulang memancing, ibu memasak sup ikan yang segar dan mengundang selera. Sewaktu aku memakan sup ikan itu, ibu duduk disamping gw dan memakan sisa daging ikan yang masih menempel di tulang yang merupakan bekas sisa tulang ikan yang aku makan. Aku melihat ibu seperti itu, hati juga tersentuh, lalu menggunakan sumpitku dan memberikannya kepada ibuku. Tetapi ibu dengan cepat menolaknya, ia berkata : "Makanlah nak, aku tidak suka makan ikan" ———- KEBOHONGAN IBU YANG KEDUA

Sekarang aku sudah masuk SMP, demi membiayai sekolah abang dan kakakku, ibu pergi ke koperasi untuk membawa sejumlah kotak korek api untuk ditempel, dan hasil tempelannya itu membuahkan sedikit uang untuk menutupi kebutuhan hidup. Di kala musim dingin tiba, aku bangun dari tempat tidurku, melihat ibu masih bertumpu pada lilin kecil dan dengan gigihnya melanjutkan pekerjaanny menempel kotak korek api. Aku berkata :"Ibu, tidurlah, udah malam, besok pagi ibu masih harus kerja." Ibu tersenyum dan berkata :"Cepatlah tidur nak, aku tidak capek" ———- KEBOHONGAN IBU YANG KETIGA

Ketika ujian tiba, ibu meminta cuti kerja supaya dapat menemaniku pergi ujian. Ketika hari sudah siang, terik matahari mulai menyinari, ibu yang tegar dan gigih menunggu aku di bawah terik matahari selama beberapa jam. Ketika bunyi lonceng berbunyi, menandakan ujian sudah selesai. Ibu dengan segera menyambutku dan menuangkan teh yang sudah disiapkan dalam botol yang dingin untukku. Teh yang begitu kental tidak dapat dibandingkan dengan kasih sayang yang jauh lebih kental. Melihat ibu yang dibanjiri peluh, aku segera memberikan gelasku untuk ibu sambil menyuruhnya minum. Ibu berkata :"Minumlah nak, aku tidak haus!" ———- KEBOHONGAN IBU YANG KEEMPAT

Setelah kepergian ayah karena sakit, ibu yang malang harus merangkap sebagai ayah dan ibu. Dengan berpegang pada pekerjaan dia yang dulu, dia harus membiayai kebutuhan hidup sendiri. Kehidupan keluarga kita pun semakin susah dan susah. Tiada hari tanpa penderitaan. Melihat kondisi keluarga yang semakin parah, ada seorang paman yang baik hati yang tinggal di dekat rumahku pun membantu ibuku baik masalah besar maupun masalah kecil. Tetangga yang ada di sebelah rumah melihat kehidupan kita yang begitu sengsara, seringkali menasehati ibuku untuk menikah lagi. Tetapi ibu yang memang keras kepala tidak mengindahkan nasehat mereka, ibu berkata : "Saya tidak butuh cinta" ———-KEBOHONGA N IBU YANG KELIMA

Setelah aku, kakakku dan abangku semuanya sudah tamat dari sekolah dan bekerja, ibu yang sudah tua sudah waktunya pensiun. Tetapi ibu tidak mau, ia rela untuk pergi ke pasar setiap pagi untuk jualan sedikit sayur untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Kakakku dan abangku yang bekerja di luar kota sering mengirimkan sedikit uang untuk membantu memenuhi kebutuhan ibu, tetapi ibu bersikukuh tidak mau menerima uang tersebut. Malahan mengirim balik uang tersebut. Ibu berkata : "Saya punya duit" ———-KEBOHONGA N IBU YANG KEENAM

Setelah lulus dari S1, aku pun melanjutkan studi ke S2 dan kemudian memperoleh gelar master di sebuah universitas ternama di Amerika berkat sebuah beasiswa di sebuah perusahaan. Akhirnya aku pun bekerja di perusahaan itu. Dengan gaji yang lumayan tinggi, aku bermaksud membawa ibuku untuk menikmati hidup di Amerika. Tetapi ibu yang baik hati, bermaksud tidak mau merepotkan anaknya, ia berkata kepadaku "Aku tidak terbiasa" ———-KEBOHONGA N IBU YANG KETUJUH

Setelah memasuki usianya yang tua, ibu terkena penyakit kanker lambung, harus dirawat di rumah sakit, aku yang berada jauh di seberang samudra atlantik langsung segera pulang untuk menjenguk ibunda tercinta. Aku melihat ibu yang terbaring lemah di ranjangnya setelah menjalani operasi. Ibu yang keliatan sangat tua, menatap aku dengan penuh kerinduan. Walaupun senyum yang tersebar di wajahnya terkesan agak kaku karena sakit yang ditahannya. Terlihat dengan jelas betapa penyakit itu menjamahi tubuh ibuku sehingga ibuku terlihat lemah dan kurus kering. Aku sambil menatap ibuku sambil berlinang air mata. Hatiku perih, sakit sekali melihat ibuku dalam kondisi seperti ini. Tetapi ibu dengan tegarnya berkata : "Jangan menangis anakku, Aku tidak kesakitan" ———-KEBOHONGA N IBU YANG KEDELAPAN.


Setelah mengucapkan kebohongannya yang kedelapan, ibuku tercinta menutup matanya untuk yang terakhir kalinya.

Dari cerita di atas, saya percaya teman-teman sekalian pasti merasa tersentuh dan ingin sekali mengucapkan : " Terima kasih ibu ! "
Coba dipikir-pikir teman, sudah berapa lamakah kita tidak menelepon ayah ibu kita? Sudah berapa lamakah kita tidak menghabiskan waktu kita untuk berbincang dengan ayah ibu kita? Di tengah-tengah aktivitas kita yang padat ini, kita selalu mempunyai beribu-ribu alasan untuk meninggalkan ayah ibu kita yang kesepian. Kita selalu lupa akan ayah dan ibu yang ada di rumah. Jika dibandingkan dengan pacar kita, kita pasti lebih peduli dengan pacar kita. Buktinya, kita selalu cemas akan kabar pacar kita, cemas apakah dia sudah makan atau belum, cemas apakah dia bahagia bila di samping kita. Namun, apakah kita semua pernah mencemaskan kabar dari ortu kita? Cemas apakah ortu kita sudah makan atau belum? Cemas apakah ortu kita sudah bahagia atau belum? Apakah ini benar? Kalau ya, coba kita renungkan kembali lagi.. Di waktu kita masih mempunyai kesempatan untuk membalas budi ortu kita, lakukanlah yang terbaik.. Jangan sampai ada kata "MENYESAL" di kemudian hari.I U, MAMA! love






Aku Menangis Untuk Adikku

By Dafa | Sabtu, Oktober 11, 2008 | 0 Komentar Kawan2


Aku dilahirkan di sebuah dusun pegunungan yang sangat terpencil.
Hari demi hari, orang tuaku membajak tanah kering kuning, dan
punggung mereka menghadap ke langit. Aku mempunyai seorang adik,
tiga tahun lebih muda dariku.

Suatu ketika, untuk membeli sebuah sapu tangan yang mana semua gadis di sekelilingku kelihatannya membawanya, Aku mencuri lima puluh sendari laci ayahku. Ayah segera menyadarinya. Beliau membuat adikku dan aku berlutut di depan tembok, dengan sebuah tongkat bambu di tangannya.

"Siapa yang mencuri uang itu?" Beliau bertanya. Aku terpaku, terlalu takut untuk berbicara. Ayah tidak mendengar siapa pun mengaku, jadi Beliau mengatakan, "Baiklah,
kalau begitu, kalian berdua layak dipukul!"

Dia mengangkat tongkat bambu itu tingi-tinggi. Tiba-tiba, adikku mencengkeram tangannya dan berkata, "Ayah, aku yang melakukannya!"

Tongkat panjang itu menghantam punggung adikku bertubi-tubi. Ayah begitu marahnya sehingga ia terus menerus mencambukinya sampai Beliau kehabisan nafas. Sesudahnya, Beliau duduk di atas ranjang batu bata kami dan memarahi, "Kamu sudah belajar mencuri dari rumah sekarang, hal memalukan apa lagi yang akan kamu lakukan di masa
mendatang? ... Kamu layak dipukul sampai mati! Kamu pencuri tidak tahu malu!"

Malam itu, ibu dan aku memeluk adikku dalam pelukan kami. Tubuhnya penuh dengan luka, tetapi ia tidak menitikkan air mata setetes pun. Di pertengahan malam itu, saya tiba-tiba mulai menangis meraung-raung. Adikku menutup mulutku dengan tangan kecilnya dan berkata, "Kak, jangan menangis lagi sekarang. Semuanya sudah
terjadi."

Aku masih selalu membenci diriku karena tidak memiliki cukup keberanian untuk maju mengaku. Bertahun-tahun telah lewat, tapi insiden tersebut masih kelihatan seperti baru kemarin. Aku tidak pernah akan lupa tampang adikku ketika ia melindungiku. Waktu itu, adikku berusia 8 tahun. Aku berusia 11.

Ketika adikku berada pada tahun terakhirnya di SMP, ia lulus untuk masuk ke SMA di pusat kabupaten. Pada saat yang sama, saya diterima untuk masuk ke sebuah universitas propinsi. Malam itu, ayah berjongkok di halaman, menghisap rokok tembakaunya, bungkus demi bungkus. Saya mendengarnya memberengut, "Kedua anak kita memberikan hasil yang begitu baik...hasil yang begitu baik..."
Ibu mengusap air matanya yang mengalir dan menghela nafas, "Apa gunanya? Bagaimana mungkin kita bisa membiayai keduanya sekaligus?" Saat itu juga, adikku berjalan keluar ke hadapan ayah dan berkata, "Ayah, saya tidak mau melanjutkan sekolah lagi, telah cukup membaca banyak buku."
Ayah mengayunkan tangannya dan memukul adikku pada wajahnya. "Mengapa kau mempunyai jiwa yang begitu keparat lemahnya? Bahkan jika berarti saya mesti mengemis di jalanan saya akan menyekolahkan kamu berdua sampai selesai!" Dan begitu kemudian ia mengetuk setiap rumah di dusun itu untuk meminjam uang. Aku menjulurkan tanganku selembut yang aku bisa ke muka adikku yang membengkak, dan berkata, "Seorang anak laki-laki harus meneruskan sekolahnya; kalau tidak ia tidak akan pernah meninggalkan jurang kemiskinan ini."

Aku, sebaliknya, telah memutuskan untuk tidak lagi meneruskan ke
universitas. Siapa sangka keesokan harinya, sebelum subuh datang, adikku meninggalkan rumah dengan beberapa helai pakaian lusuh dan sedikit kacang yang sudah mengering. Dia menyelinap ke samping ranjangku dan meninggalkan secarik kertas di atas bantalku: "Kak, masuk ke universitas tidaklah mudah.. Saya akan pergi mencari
kerja dan mengirimu uang." Aku memegang kertas tersebut di atas tempat tidurku, dan menangis dengan air mata bercucuran sampai suaraku hilang. Tahun itu, adikku
berusia 17 tahun. Aku 20. Dengan uang yang ayahku pinjam dari seluruh dusun, dan uang yang adikku hasilkan dari mengangkut semen pada punggungnya di lokasi
konstruksi, aku akhirnya sampai ke tahun ketiga (di universitas). Suatu hari, aku sedang belajar di kamarku, ketika teman sekamarku masuk dan memberitahukan, " Ada seorang penduduk dusun menunggumu di luar sana !
"Mengapa ada seorang penduduk dusun mencariku?
Aku berjalan keluar, dan melihat adikku dari jauh, seluruh badannya kotor tertutup debu semen dan pasir. Aku menanyakannya, "Mengapa kamu tidak bilang pada teman sekamarku kamu adalah adikku?"
Dia menjawab, tersenyum, "Lihat bagaimana penampilanku. Apa yang akan mereka pikir jika mereka tahu saya adalah adikmu? Apa mereka tidak akan menertawakanmu?"
Aku merasa terenyuh, dan air mata memenuhi mataku. Aku menyapu debu-debu dari adikku semuanya, dan tersekat-sekat dalam kata-kataku, "Aku tidak perduli omongan siapa pun! Kamu adalah adikku apa pun juga! Kamu adalah adikku bagaimana pun penampilanmu..."
Dari sakunya, ia mengeluarkan sebuah jepit rambut berbentuk kupu-kupu. Ia memakaikannya kepadaku, dan terus menjelaskan, "Saya melihat semua gadis kota memakainya. Jadi saya pikir kamu juga harus memiliki satu."
Aku tidak dapat menahan diri lebih lama lagi.
Aku menarik adikku ke dalam pelukanku dan menangis dan menangis.
Tahun itu, ia berusia 20, Aku 23. Kali pertama aku membawa pacarku ke rumah, kaca jendela yang pecah telah diganti, dan kelihatan bersih di mana-mana. Setelah pacarku
pulang, aku menari seperti gadis kecil di depan ibuku. "Bu, ibu tidak perlu menghabiskan begitu banyak waktu untuk membersihkan rumah kita!"

Tetapi katanya, sambil tersenyum,
"Itu adalah adikmu yang pulang awal untuk membersihkan rumah ini. Tidakkah kamu melihat luka pada tangannya? Ia terluka ketika memasang kaca jendela baru itu.."
Aku masuk ke dalam ruangan kecil adikku. Melihat mukanya yang kurus, seratus jarum terasa menusukku. Aku mengoleskan sedikit saleb pada lukanya dan mebalut lukanya.
"Apakah itu sakit?" Aku menanyakannya. "Tidak, tidak sakit. Kamu tahu, ketika saya bekerja di lokasi konstruksi, batu-batu berjatuhan pada kakiku setiap waktu. Bahkan
itu tidak menghentikanku bekerja dan..."
Ditengah kalimat itu ia berhenti. Aku membalikkan tubuhku memunggunginya, dan air mata mengalir deras turun ke wajahku. Tahun itu, adikku 23, Aku berusia 26.
Ketika aku menikah, aku tinggal di kota . Banyak kali suamiku dan aku mengundang orang tuaku untuk datang dan tinggal bersama kami, tetapi mereka tidak pernah mau. Mereka mengatakan, sekali meninggalkan dusun, mereka tidak akan tahu harus mengerjakan apa. Adikku tidak setuju juga, mengatakan, "Kak, jagalah mertuamu aja. Saya akan menjaga ibu dan ayah di sini."
Suamiku menjadi direktur pabriknya. Kami menginginkan adikku mendapatkan pekerjaan sebagai manajer pada departemen pemeliharaan.

Tetapi adikku menolak tawaran tersebut. Ia bersikeras memulai bekerja sebagai pekerja reparasi. Suatu hari, adikku diatas sebuah tangga untuk memperbaiki sebuah
kabel, ketika ia mendapat sengatan listrik, dan masuk rumah sakit. Suamiku dan aku pergi menjenguknya. Melihat gips putih pada kakinya, saya menggerutu, "Mengapa kamu
menolak menjadi manajer?
Manajer tidak akan pernah harus melakukan sesuatu yang berbahaya seperti ini. Lihat kamu sekarang, luka yang begitu serius. Mengapa kamu tidak mau mendengar kami sebelumnya?" Dengan tampang yang serius pada wajahnya, ia membela keputusannya.
"Pikirkan kakak ipar--ia baru saja jadi direktur, dan saya hampir tidak berpendidikan. Jika saya menjadi manajer seperti itu, berita seperti apa yang akan dikirimkan?"
Mata suamiku dipenuhi air mata, dan kemudian keluar kata-kataku yang
sepatah-sepatah:
"Tapi kamu kurang pendidikan juga karena aku!"
"Mengapa membicarakan masa lalu?"
Adikku menggenggam tanganku. Tahun itu, ia berusia 26 dan aku 29. Adikku kemudian berusia 30 ketika ia menikahi seorang gadis petani dari dusun itu. Dalam acara pernikahannya, pembawa acara perayaan itu bertanya kepadanya, "Siapa yang paling kamu hormati dan kasihi?" Tanpa bahkan berpikir ia menjawab,
"Kakakku."
Ia melanjutkan dengan menceritakan kembali sebuah kisah yang bahkan tidak dapat kuingat.
"Ketika saya pergi sekolah SD, ia berada pada dusun yang berbeda. Setiap hari kakakku dan saya berjalan selama dua jam untuk pergi ke sekolah dan pulang ke rumah. Suatu hari, Saya kehilangan satu dari sarung tanganku. Kakakku memberikan satu dari kepunyaannya. Ia hanya memakai satu saja dan berjalan sejauh itu. Ketika kami tiba di
rumah, tangannya begitu gemetaran karena cuaca yang begitu dingin sampai ia tidak dapat memegang sumpitnya. Sejak hari itu, saya bersumpah, selama saya masih hidup, saya akan menjaga kakakku dan baik kepadanya."

Tepuk tangan membanjiri ruangan itu. Semua tamu memalingkan perhatiannya kepadaku.
Kata-kata begitu susah kuucapkan keluar bibirku, "Dalam hidupku, orang yang paling aku berterima kasih adalah adikku."
Dan dalam kesempatan yang paling berbahagia ini, di depan kerumunan perayaan ini, air mata bercucuran turun dari wajahku seperti sungai.


love



sister












KISAH TUKANG TEMPE

By Dafa | Rabu, Oktober 08, 2008 | 2 Komentar Kawan2

Adalah seorang ibu setengah baya yang sehari-harinya berjualan tempe buatan sendiri di desanya. Suatu hari, seperti biasanya, pada saat ia akan pergi ke pasar untuk menjual tempenya, ternyata pagi itu, tempe yang terbuat dari kacang kedele masih belum jadi tempe alias masih setengah jadi.
Ibu ini sangat sedih hatinya, sebab jika tempe tersebut tidak jadi berarti ia tidak akan mendapatkan uang karena tempe yang belum jadi tentunya tidak laku dijual. Padahal mata pencaharian si ibu satu-satunya hanyalah dari menjual tempe saja agar ia dapat memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari.
Dalam suasana hatinya yang sedih, si ibu yang memang aktif beribadah teringat akan Tuhan yang menyatakan bahwa Tuhan dapat melakukan perkara-perkara ajaib, bahwa bagi Tuhan tiada yang mustahil.
Lalu ia pun menumpangkan tangannya di atas tumpukan beberapa batangan kedele yang masih dibungkus dengan daun pisang tersebut."Tuhan, aku mohon kepadaMu agar kedele ini menjadi tempe .
"Amin". Demikian doa singkat si Ibu yang dipanjatkannya dengan sepenuh hati. Ia yakin dan percaya pasti Tuhan menjawab doanya.
Lalu, dengan tenang ia menekan-nekan bungkusan bakal tempe tersebut dengan ujung jarinya.D engan hati yang deg-deg-an, Ia mulai membuka sedikit bungku sanny a untuk melihat mukjijat kedele jadi tempe terjadi.
Namun apa yang terjadi? Dengan kaget dia mendapati bahwa kedele tersebut masih tetap kedele!Si Ibu tidak kecewa .
Ia berpikir bahwa mungkin doanya kurang jelas didengar Tuhan. Lalu kembali ia menumpangkan tangan di atas batangan kedele tersebut.
"Tuhan, aku tahu bahwa bagiMu tiada yang mustahil. Tolonglah aku supaya hari ini aku bisa berdagang tempe karena itulah mata pencaharianku. Aku mohon jadilah ini menjadi tempe .
"Amin."Dengan Iman, Iapun kembali membuka sedikit bungkusan tersebut. Lalu apa yang terjadi? Dengan kaget ia melihat bahwa kacang kedele tersebut???. ........ ........masih tetap begitu !
Sementara hari semakin siang dimana pasar tentuny aakan semakin ramai.Si ibu dengan tidak merasa kecewa atas doanya yang belum terkabul, merasa bahwa bagaimanapun sebagai langkah iman ia akan tetap pergi ke pasar membawa keranjang berisi barang dagangannya itu.
Ia berpikir mungkin mujijat Tuhan akan terjadi ditengah perjalanan ia pergi ke pasar. Lalu ibu itu punbersiap-siap untuk berangkat ke pasar. Semua keperluannya untuk berjualan tempe seperti biasanya sudah disiapkannya.
Sebelum beranjak dari rumahnya, ia sempatkan untuk menumpangkan tangan sekali lagi.
"Tuhan, aku percaya Engkau akan mengabulkan doaku. Sementara aku berjalan menuju pasar, Engkau akan mengadakan mukjijat buatku.
"Amin." Lalu ia punberangkat.
Di sepanjang perjalanan ia tidak henti-hentinya berdoa. Tidak lama kemudian sampailah ia di pasar. Dan seperti biasanya ia mengambil tempat untuk menggelar barang dagangannya.
Ia yakin bahwa tempenya sekarang pastisudah jadi. Lalu iapun membuka keranjangnya dan pelan-pelan menekan-nekan dengan jarinya bungkusan tiap bungkusan yang ada.
Perlahan ia membuka sedikitdaun pembungkusnya dan melihat isinya.Apa yang terjadi? Ternyata saudara-saudara. .... ......... ...tempenya benar benar....... ..... . ......... belum jadi !
Si Ibu menelan ludahnya. Ia tarik napas dalam-dalam. Ia mulai kecewapada Tuhan karena doanya tidak dikabulkan.
Ia merasa Tuhan tidak adil. Tuhan tidak kasihan kepadanya. Ia hidup hanya mengandalkan hasil menjual tempe saja.
Selanjutnya, ia hanya duduk saja tanpa menggelar dagangannya karena ia tahu bahwa mana ada orang mau membeli tempe yang masih setengah jadi. Sementara hari semakin siang dan pasar sudah mulaisepi dengan pembeli.
Ia melihat dagangan teman-temannya sesama penjual tempe yang tempenya sudah hampir habis. Rata-rata tinggal sedikit lagi tersisa.
Si ibu tertunduk lesuh. Ia seperti tidak sanggup menghadapi kenyataan hidupnya hari itu. Ia hanya bisa termenung dengan rasa kecewa yang dalam. Yang ia tahu bahwa hari itu ia tidak akan mengantongi uangs epeserpun.
Tiba-tiba ia dikejutkan dengan sapaan seorang wanita."Bu?! Maaf ya, saya mau tanya. Apakah ibu menjual tempe yang belum jadi? Soalnya dari tadi saya sudah keliling pasar mencarinya."
Seketika si ibu tadi terperangah. Ia kaget. Sebelum ia menjawab sapaan wanita di depannya itu, dalam hati cepat-cepat ia berdoa
"Tuhan? saat ini aku tidak butuh tempe lagi. Aku tidak butuh lagi. Biarlah daganganku ini tetap seperti semula, Amin."Tapi kemudian, ia tidak berani menjawab wanita itu.
Ia berpikir jangan-jangan selagi ia duduk-duduk termenung tadi, tempenya sudah jadi. Jadi ia sendiri saat itu dalam posisi ragu-ragu untuk menjawab ya kepada wanita itu.
"Bagaimana nih?" ia pikir. "Kalau aku katakan iya, jangan-jangan tempenya sudah jadi. Siapa tahu tadi sudah terjadi mukjijat Tuhan?"
Ia kembali berdoa dalam hatinya, "Ya Tuhan, biarlah tempeku ini tidak usah jadi tempe lagi. Sudah ada orang yang kelihatannya mau beli. Tuhan, tolonglah aku kali ini.
Tuhan dengarkanlah doaku ini.." ujarnya berkali-kali. Lalu, sebelum ia menjawab wanita itu, ia pun membuka sedikit daun penutupnya. Lalu ? apa yang dilihatnyaSaudara- Saudara ???
Ternyata??ternyata? memang benar tempenya belum jadi!
Ia bersorak senang dalam hatinya. Singkat cerita wanita tersebut memborong semua dagangan si Ibu itu.

Sebelum wanita itu pergi, ia penasaran kenapa ada orang yang mau beli tempe yang belum jadi. Ia bertanya kepada si wanita. Dan wanita itu mengatakan bahwa anaknya di Yogya mau tempe yang berasal dari desa itu. Berhubung tempenya akan dikirim ke Yogya jadi ia harus membeli tempe yang belum jadi, supaya agar setibanya di sana tempenya sudah jadi. Kalau tempe yang sudah jadi yang dikirim maka setibanya di sana nanti tempe tersebut sudah tidak bagus lagi dan rasanya sudah tidak enak.

Apa yang bisa kita simpulkan dari kesaksian / Cerita sederhana?

Pertama : Kita sering memaksakan kehendak kita kepadaTuhan pada waktu kita berdoa padahal sebenarnya Tuhan lebih mengetahui apa yang kita
perlukan.
Kedua : Tuhan menolong kita dengan caraNya yang sama sekali di luar perkiraan kita sebelumnya.

Ketiga : Tiada yang mustahil bagi Tuhan

Keempat : Percayalah bahwa Tuhan akan menjawab doakita sesuai dengan rancanganNya.



Bagikanlah kesaksian ini kepada sahabat 2x dan
Teman2x...mudah2an bisa diambil manfaatnya dari kisah ini.





Best Regard,

fhao zee yah

 

Mengenai Saya

Foto Saya
Aden adalah Fauzan Saputra. Sekarang den tahu kenapa ortu ngasih nama itu. Karna Fauzan Saputra itu memiliki arti yang bagus. Pertama Fauzan, yang berasal dari bahasa Arab berarti KEMENANGAN. Kedua Sa, berarti Bagi. Ketiga Putra, dari bahasa Indonesia berarti SEORANG LAKI2. Jadi Fauzan Saputra=Kemenangan Bagi Seorang Laki2. OK Kan!!!
Home | Internazionale |Interisti | Advertise with Us | Free Blogger Templates | Widget | Site Maps
Hak Cipta © 2010 - 2012. fauzansaputra.blogspot.com - All rights reserved | Proudly Powered by Blogger.com
Sponsored by Internazionale